Tulisan ini hanya berasal dari hasil blog walking,tidak ada maksud penjerumusan atau berusaha menggeser tingkat keimanan pembaca,total tujuan dari posting kali ini hanya untuk berbagi dan sedikit memutar otak untuk segala realita yang ada di sekitar kita.
Sejenak Puisi dari Sang Atheis:
Kasihan umat yang percaya…
Dosa di pundaknya…
Palu Godam Tuhan di atas kepalanya…
Setan di kemaluannya…
Sementara sang Atheis terkakak dan terkekeh…
Menikmati semua racun dan madu dunia…
Kebencian membuncah di hati sang umat…
Memandang jijik dunia dan tubuhnya sendiri…
Begitu beratkah beban yang ditanggung…
Sehingga sang umat harus hidup menderita…
Matipun TIDAK DIJAMIN bahagia…
Sedangkan sang Atheis…
Tertawa dan bersenda-gurau dengan Tuhan…Atau Setan…
Hanya sang umat yang peduli…
Peduli setan!!!
Serumpun Esai:
Bagi yang masih percaya dengan konsep Dosa dan Setan, saya menyatakan
turut berempati dengan anda. Saya tahu perasaan anda dalam menjalani
hidup saat ini. Begitu berat dengan peraturan-peraturan yang harus
ditaati dan larangan-larangan yang harus dihindari. Jawabannya
sebenarnya begitu mudah. Hilangkan kepercayaan anda mengenai dosa dan
setan. Maka semua penderitaan anda akan selesai. SELESAI.
Tapi anda tidak bisa bukan? Saya tadi mengatakan saya dapat berempati
dengan anda. Tapi sebenarnya saya sedikit berbohong tentang hal itu.
Bagaimana mungkin saya bisa berempati lagi dengan hal-hal seperti itu?
Saya bahkan hampir-hampir lupa bagaimana rasanya menjadi takut setelah
melakukan dosa. Atau saya hampir lupa bagaimana rasanya digoda setan,
atau diserang setan. Atau hampir lupa juga bagaimana perasaan telah
dihukum oleh Tuhan, atau telah diberkati Tuhan, berkaitan dengan
tingkah-laku saya mengenai dosa dan pahala. Saya hampir tidak bisa,
mau sih… tapi tidak bisa LAGI berempati dengan anda-anda sekalian
yang masih mempercayai hal-hal begituan. Soalnya saya memang tidak
dapat lagi merasakan hal-hal mistik seperti itu.
Tapi melalui tulisan ini saya ingin menunjukkan ajah bahwa hidup
kesetanan dengan hidup cuek terhadap setan itu rasanya beda ajah..!
Anda ingin tampil beda? Hiduplah berdampingan dengan setan-setan.
Mereka itu baik-baik kok orangnya. Takut Tuhan jadi marah? Jangan
kuatir, ada saya kok. Nanti saya akan yakinkan anda kalau Tuhan itu
tidak akan marah kalau anda jadi anak gaul bareng setan. Setan kan
ciptaan Tuhan juga. Kalau Dia marah, cukup kita bilang…”Eh Tuhan,
jangan marah-marah gitu donk…, manusia dan setan kan sama-sama
ciptaan anda. Jadi kita sederajat gitu lho…! Katanya Tuhan sayang
kepada semua ciptaannya? Lagipula setan sering nanya kepada saya,
Tuhan itu yang menciptakan siapa yah? Kok Dia ada sehingga bisa
menciptakan kita-kita ini? Ya gak Tuhan?”. Dijamin, Tuhan akan
garuk-garuk kepala bingung karena pertanyaan dan jawaban tidak
nyambung (jawaban E, seperti pada pilihan ganda model sebab-akibat di
ujian sekolahan dulu). Tapi itu memang keahlian setan (dan kita juga)
untuk membuat pencipta dan yang diciptakan sama-sama bingung. Dan kali
ini Tuhanlah yang tergoda (tepatnya bingung) untuk tidak jadi marah
kepada manusia (setidaknya menurut sang Atheis).
Kasihan untuk anda. Anda telah menanggung dosa. Dan kalau gak
cepet-cepet dibersihken, anda bisa dilemparkan kedalam neraka. Dan
anda akan belajar bergaul dengan setan di neraka. Nah daripada nanti
canggung gaulnya dan dianggap anak kuper di neraka, mendingen belajar
dulu ajah selagi di bumi. Karena tokh kesempatan untuk masuk surga
katanya (menurut sang Umat) seperti sehelai rambut dibelah tujuh! Atau
seperti onta masuk kedalam lubang jarum! Kecil sekali khan? Jadi
ngapain capek-capek belajar gaul ama malaikat, kalo nanti ilmu gaulnya
gak kepake sama sekali di neraka??? Silahkan datangi perwakilan setan
terdekat untuk belajar secepatnya gimana cara bergaul dengan
setan-setan yang imut-imut.
Neraka seperti apa? Nah kalian jauh lebih tau daripada saya. Saya ajah
masih gemetaran n panas-dingin (karena terlalu exciting n takjub)
menantikan apa yang terjadi setelah saya mati (karena saya tidak tahu
apa-apa yang terjadi setelah mati). Tapi anda semua nasibnya sudah
bisa dikira-kira sendiri. ‘Barang siapa yang merasa tidak pernah
melakukan dosa silahkan membatui pelacur ini!’, begitulah kata Yesus.
Yang artinya tidak seorangpun yang akan lagi membatui pelacur tersebut
kecuali dia tidak tahu malu. Dan itu berarti tidak ada orang yang
tidak pernah berbuat dosa. Dan itu berarti pula tidak ada satu orang
pun yang merasa DOSANYA LEBIH SEDIKIT DARIPADA PELACUR TERSEBUT! Ayo
ngakulah!!! Saya sebagai sang Atheis bisa ketawa-ketiwi disini. Tapi
anda sebagai sang Umat, anda akan merasa menyesal, takut, betaubat,
berdoa memohon ampun dan berkat, dll..dll. Betul khan? Ini berarti
potensi penghuni neraka akan jauh lebih besar, atauuu.. mungkin surga
akan kosong melompong kecuali para nabi! Gak percaya? Kita ulangi
formulanya! Hayooo… siapa yang merasa dosanya lebih sedikit atau
kurang-lebih sama dengan para nabi? Hayooo? Nah ini membuktikan
anda-anda sekalian LEBIH PEDE UNTUK MASUK KE NERAKA DIBANDINGKAN
MERASA LAYAK UNTUK MASUK SURGA! Dan sang Atheis hanya bisa tertawa
(BUKAN tertawa menangis, karena tak ada yang perlu ditangisi, anda
akan tahu nanti mengapa).
Tapi herannya gak ada yang mau disamakan seperti setan. Anda percaya
anda mempunyai dosa lebih banyak dari pada para nabi, kira-kira
sepadan dengan para pelacur, namun emooh disamakan dengan banyaknya
dosa para setan. Ini akan menjadi konflik mental bagi anda, karena
kelihatannya anda pede dengan nerakanya tapi gak pede dengan setannya.
Bahkan anda pede dengan PERBUATAN DOSA-DOSANYA tapi anda tetap gak
pede terhadap para penciptanya, yaitu setan. Ini namanya perbuatan
melanggar hak cipta. Karena kita tidak menghargai penciptanya lagi
(seperti lagu bengawan solo yang penciptanya hidup miskin). Dan
akibatnya banyak setan yang protes kepada saya (karena mereka percaya
sama saya). Manusia-manusia sang Umat sama sekali tidak menghargai
hasil karya orang. Mereka hanya menginginkan produknya sajah (yaitu
dosa-dosa) namun tidak menghargai kita sama-sekali! Benar-benar capek
kita dibuatnya! Kita (maksudnya setan) sudah capek-capek mengikuti
keinginan mereka untuk menciptakan dosa yang paling canggih dan
ngetren tapi mereka memalingkan muka mereka dari kita! Dasar munafik!
Nah lho…! Yah anda-anda para sang Umat memang tidak pandai bergaul
sama-sekali dengan makhluk-makhluk kosmik. Ngakunya temennya para
malaikat tapi pake produk-produk luar– eh maksudnya pake
produk-produk buatan setan. Pengennya gaul dengan malaikat eh malah
mempraktekkan SOP-nya ‘gaul ala setan’. Tapi gak mau mengakrab-akrabi
diri dengan setan namun lebih pede ke neraka? Kalian benar-benar
manusia yang ambigu…! Gak jelas! Jelas-jelas juklak yang kalian baca
dan pake adalah juklak ‘1001 cara sangat mudah ke neraka dan
menghindari surga’. Karena tentu kalau kalian pake juklak ‘1001 cara
sangat mudah menuju surga tanpa neraka’, tak akan ada frasa ’sehelai
rambut dibelah tujuh atau onta masuk ke lubang jarum’ segala! Iya
khan? Kalian harus menyadari hal itu. Kalian salah juklak. Kalian
salah mempraktekan SOP, dan kalian menuju jalan yang salah, kalau
masih tetep pengen ke surga! Itu karena kalian telah berdosa, sehingga
Tuhan mengutuki kalian dengan juklak yang salah. Disini sang Atheis
hanya tertawa terbahak-bahak dan sedikit bersyukur karena dia tidak
punya Tuhan apalagi punya juklak segala (sekali lagi disini bukan
tertawa terbahak-bahak sambil menangis, karena memang tak ada yang
menyedihkan akhirnya. Semua happy ending. Tak percaya. Baca lebih
lanjut…).
Yah tarian gila tetap berlanjut. Kalian mengelilingi altar sambil
mengeluarkan desahan-desahan tak jelas yang kadang-kadang bahasanya
pun tidak kalian mengerti. Kalaupun bahasanya kalian mengerti,
arti-arti katanya tidak kalian serap. Karena kalau disimak secara akal
sehat biasapun isinya penuh dengan dongeng tak jelas. Yang jelas
kalian telah terserap dengan tarian gilanya. Kalian telah mabuk dengan
candu yang dibagikan melalui altar kalian. Apa yang dibagikan? Tentu
saja candu RASA TAKUT. Kalian kecanduan rasa takut. Kalian tak
merasakannya seperti itu? Nah inilah bukti anda sekalian sudah
kecanduan BERATH.
Sayapun demikian, dan sekarangpun masih menjalani proses
detoksinfikasi. BERATH memang mengeluarkan racun-racun candu rasa
takut. Kalau yang ini saya benar-benar bisa berempati sekaligus
bersimpati dengan anda, karena masalah kita sama sekarang. Namun saya
mencoba untuk mengeluarkan racun, anda malah menenangkan diri dengan
candu sehingga racun menjadi menumpuk dan tubuh anda menjadi nyaman
dengan rasa takut. Anda mungkin dapat mengatakan, saya telah
kehilangan pegangan, TERUTAMA MENGENAI DOA. Saya belum bisa berdoa
kemanapun saat ini (padahal saya butuh…hehehe..hiks) tapi saya gak
bisa balik lagi ke Tuhan Yang Itu (yang sama saja menggagalkan proses
detoks saya). Yah tapi ini permasalahan saya. Sang Atheis.
Bagi anda yang masih bisa berdoa. Selamat! Yah inilah satu-satunya
rasa iri saya terhadap anda. Selebihnya, yah mungkin rasa ngelawak
kali…hahaha! Bagi saya, saya tetap teguh lebih baik menderita dulu
karena proses detoks daripada ditenangkan dengan candu rasa takut.
Persis seperti keadaan seorang pecandu yang mengalami sakau. Itulah
saya. Tapi biarlah saja berproses seperti ini.
Lanjut. Tadi saya mengatakan semuanya akan berakhir dengan happy
ending. Itu benar sekali. Saya akan merasa berdosa (tapi untungnya
tidak akan dihukum oleh Tuhan, tidak kehilangan berkat-berkat saya,
tidak sedang dicobai oleh setan, tidak ditakut-takuti dengan neraka,
tidak diganggu jin, tidak kesurupan, tidak membenci diri-sendiri,
tidak menyalahkan setan, tidak menyalahkan orang lain, tidak
menyalahkan diri-sendiri, tidak protes kepada Tuhan, tidak ada Tuhan),
bila tidak mengakhiri tulisan ini dengan happy ending. Endingnya
adalah… dosa dan setan sebenarnya…sebenarnya…ADA.
Puisi penutup setan:
HAHAHAHA…. Dia ada karena terciptakan…
Butuh setan sebagai kambing hitam…
Butuh dosa sebagai penyiksa diri…
Butuh palu godam Tuhan sebagai rasa takut…
Dan butuh sang Atheis untuk dikatakan kafir dan dibunuh…
Untuk membenci lagi mencinta…
Untuk para nabi yang ajarannya dibelokkan…
Untuk para nabi yang telah dibunuh…
Untuk mendekap hari kiamat yang diharapkan…
Sumber : adhi Blog



